September 14, 2026

Dari Sawah Apanang, Langkah Baru Pertanian Modern di Kabupaten Soppeng

SOPPENG — Pagi itu, jalan tani di Kelurahan Apanang, Kecamatan Liliriaja, tampak basah dan berlumpur. Di beberapa titik, genangan air masih menutupi akses menuju hamparan sawah tempat penanaman perdana program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) digelar, Jumat (8/5/2026).

Di tengah kondisi jalan yang sempit dan becek itu, sebuah mobil pick up perlahan bergerak memasuki area persawahan. Di atas kendaraan tersebut, Bupati Soppeng bersama rombongan menuju lokasi tanam perdana, melewati jalur yang setiap hari dilalui para petani.

Suasana pagi di Apanang hari itu bukan sekadar seremoni tanam padi. Ada harapan besar yang mulai ditanam bersama bibit-bibit padi di hamparan sawah tersebut: harapan tentang pertanian yang lebih modern, lebih produktif, dan lebih menjanjikan bagi masa depan petani.

Petani, penyuluh, pemerintah daerah, hingga jajaran Kementerian Pertanian RI berkumpul di lokasi yang kini menjadi salah satu titik pengembangan pertanian modern di Sulawesi Selatan.Soppeng sendiri menjadi satu dari hanya empat kabupaten di Sulawesi Selatan yang mendapatkan program PM-AAS, bersama Sidrap, Bone, dan Maros.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, Prof. Dr. Ir. Fadjry Jufri, M.Si., menyebut program tersebut merupakan bagian dari penerapan teknologi pertanian modern yang diadopsi dari negara-negara maju.

“Soppeng adalah salah satu kabupaten yang akan memulai teknologi pertanian modern,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan Soppeng dipilih. Uji coba sebelumnya di daerah ini berhasil mencatat produktivitas hingga 10,4 ton per hektar. Hasil itu membuat pemerintah pusat memperluas program PM-AAS di Kabupaten Soppeng pada tahun 2026 menjadi 120 hektar.

Padahal setahun sebelumnya, program serupa baru diterapkan seluas 5 hektar di Kecamatan Marioriawa.

Kini, program berkembang 100 hektar di Kecamatan Liliriaja dan 20 hektar di Kecamatan Marioriawa.Bagi petani, perubahan yang datang bukan hanya soal tambahan luas lahan program.

PM-AAS membawa cara baru dalam bertani.Ada alat tanam modern atau atabela, penggunaan drone untuk penyemprotan, pola tanam modern, hingga mekanisasi pertanian yang mulai diperkenalkan kepada petani.

Bupati Soppeng mengatakan bahwa teknologi hadir bukan untuk menggantikan petani, tetapi membantu petani agar bekerja lebih ringan dan menghasilkan panen yang lebih besar.

“Kalau dulu sawah identik dengan pekerjaan berat, maka mulai hari ini kita ingin menunjukkan bahwa pertanian juga bisa modern, maju, dan membanggakan,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa dekat dengan kondisi petani hari ini. Biaya produksi meningkat, tenaga kerja semakin terbatas, sementara tantangan pertanian terus berubah. Modernisasi menjadi salah satu harapan baru agar pertanian tetap mampu bertahan dan memberi kesejahteraan.

Di hamparan sawah Apanang, para petani tampak memperhatikan setiap penjelasan penyuluh dan tim teknis. Sebagian mencoba memahami pola tanam baru, sebagian lain melihat langsung penggunaan alat pertanian yang diterapkan.

Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun perlahan, langkah menuju pertanian modern mulai terlihat dari sawah-sawah di Apanang.

Pemerintah berharap program PM-AAS tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar menjadi jalan baru bagi pertanian di Kabupaten Soppeng.

Dari sawah yang berlumpur itu, sebuah harapan sedang tumbuh bahwa petani Soppeng suatu hari nanti bukan hanya dikenal karena kerja kerasnya, tetapi juga karena kemampuannya beradaptasi dengan pertanian masa depan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *