September 15, 2026

Di Hadapan Ka’bah: Berat yang Indah, Lelah yang Ingin Diulang

Oleh: Dr. Nur Alim

Hari ini saya duduk menghadap Ka’bah agak lama. Tidak sedang terburu-buru apa-apa. Hanya melihat, menarik napas pelan, lalu membiarkan pikiran berjalan sendiri. Dan seperti beberapa hari terakhir, sekali kali pikiran kembali ke Soppeng.

Terbayang hal-hal sederhana. Pagi yang tidak tergesa, sapaan di jalan, obrolan ringan yang kadang tidak penting tapi terasa akrab. Di sana, hidup mengalir saja. Tidak selalu ringan, tapi cukup membuat kita merasa tenang tanpa harus terlalu banyak bertanya pada diri sendiri.

Di sini, di Masjidil Haram, rasanya berbeda, bukan lebih berat, tapi lebih terasa.Sejak ambil niat di miqat, hati seperti lebih hidup. Ada was-was, iya. Tapi bukan yang menekan, justru yang membuat kita lebih sadar, apakah ini sudah sesuai?.

Setiap langkah terasa punya makna. Hal-hal kecil jadi diperhatikan, bukan karena takut semata, tapi karena ingin benar-benar menjalaninya dengan baik.

Saat thawaf, di tengah ramai manusia, ada rasa yang justru menenangkan. Langkah mengikuti arus, doa mengalir, kadang tidak teratur. Ada haru, ada tenang, bercampur begitu saja. Capeknya ada, tapi tidak mengganggu. Bahkan seperti ada bagian dari diri yang menikmati putaran demi putaran itu dan diam-diam berharap belum cepat selesai.

Sa’i juga begitu. Kaki mulai terasa di putaran akhir, napas tidak lagi seringan awal. Tapi di situ justru ada rasa yang hangat. Lelahnya seperti punya arti. Bukan beban, tapi bagian dari perjalanan yang ingin dijalani utuh.

Ada momen kecil ketika kita sadar, ini capek, tapi indah… dan kalau bisa, ingin mengulanginya lagi.

Tahallul terasa sederhana, tapi setelahnya hati seperti lebih longgar. Tidak ada yang berlebihan. Hanya perasaan cukup. Cukup tenang, cukup lega.

Sekarang, duduk memandang Ka’bah, semuanya terasa pelan. Tidak banyak yang diminta, tidak banyak yang diucapkan. Hanya ingin menikmati suasana ini lebih lama.Dan di tengah ketenangan itu,

Soppeng kembali teringat, dimana sering membuat kita lupa berhenti sejenak untuk benar-benar merasakan diri sendiri. Di sana, kita mudah merasa “baik-baik saja”.

Di sini, kita merasakan lebih dalam, bukan hanya yang ringan, tapi juga yang selama ini disimpan. Anehnya, justru di situ letak ketenangannya.Karena yang terasa di Mekkah bukan sekadar lelah atau khusyuk, tapi campuran keduanya, berat yang terasa ringan, capek yang terasa nikmat, dan momen-momen yang diam-diam ingin diulang.

Saya masih di sini. Masih melihat Ka’bah.Tapi hati sudah mulai tahu… rasa seperti ini tidak akan mudah ditemukan lagi.Dan mungkin itu sebabnya, bahkan sebelum pergi, sudah ada keinginan kecil yang muncul pelan-pelan, kalau bisa… ingin kembali lagi.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *