SOPPENG. Sekitar 765 tahun lalu, La Temmamala duduk di atas Batu Lamungpatue, lalu berdiri sambil menggenggam batang padi yang menjadi sumber kehidupan rakyatnya dan dengan suara tegas ia mengucapkan ikrar.
“Isi padi tak akan masuk melalui kerongkongan saya bila berlaku curang dalam melakukan pemerintahan selaku Datu Soppeng”
Saat itu negeri tengah dilanda paceklik karena sawah mengering tanah retak dan kehidupan masyarakat penuh kesulitan. Segenggam padi yang digenggam La Temmamala menjadi simbol tanggung jawab seorang pemimpin karena memastikan kehidupan rakyat terlindungi dan kekuasaan digunakan untuk kepentingan umum.
Tantangan Modern di Tengah Pemangkasan Anggaran
Nilai ikrar itu tetap relevan ketika Kabupaten Soppeng menghadapi tantangan modern karena tahun pertama pemerintahan Suwardi Haseng dan Selle KS Dalle dimulai dengan tekanan fiskal yang cukup berat.
Pemangkasan anggaran lebih dari Rp70 miliar pada awal 2025 disusul pengurangan yang lebih besar setahun kemudian memaksa pemerintah daerah menyusun ulang prioritas pembangunan.

Program-program yang sebelumnya tersebar di banyak sektor harus disesuaikan dan pilihan kebijakan menjadi lebih terbatas sehingga semua keputusan dipertimbangkan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Fokus pada Kesejahteraan Masyarakat
Dalam kondisi terbatas itu pemerintah daerah menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai fokus karena layanan kesehatan diperbaiki dengan ketersediaan obat yang lebih terjamin dan sistem antrean yang diperbarui. Di bidang pendidikan perhatian diberikan pada sarana belajar dasar dan bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa.
Sektor pertanian tetap menjadi prioritas utama karena dukungan diarahkan pada perbaikan infrastruktur serta penyediaan alat dan mesin pertanian agar produktivitas tetap terjaga sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap dipenuhi meskipun ruang fiskal terbatas.
Indikator Pembangunan yang Bergerak Berbeda
Beberapa indikator menunjukkan bagaimana langkah-langkah ini berjalan karena pertumbuhan ekonomi Soppeng pada 2025 tercatat 4,73 persen yang lebih rendah dibanding 6,31 persen pada 2023 dan mencerminkan perlambatan akibat keterbatasan belanja daerah.
Meski begitu, Indeks Pembangunan Manusia atau IPM naik dari 70,58 pada 2023 menjadi 73,63 pada 2025 dan angka kemiskinan menurun dari 7,48 persen menjadi 6,65 persen sementara inflasi relatif stabil di 2,42 persen.
Pergerakan indikator ini menunjukkan bahwa pemerintah menekankan program-program yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat karena fokus diarahkan pada aspek dasar seperti kesehatan pendidikan dan pertanian yang menjadi penopang kesejahteraan sehari-hari.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip yang diikrarkan La Temmamala karena tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat menjadi prioritas utama terutama ketika sumber daya terbatas dan keputusan sulit harus dibuat.
Konsistensi Lebih Penting dari Kecepatan
Satu tahun pertama pemerintahan memang belum cukup untuk menilai arah pembangunan secara menyeluruh karena beberapa program masih dalam tahap awal dan dampaknya baru akan terlihat beberapa tahun mendatang.
Namun pola yang terbentuk menunjukkan konsistensi karena pertumbuhan ekonomi melambat tetapi kualitas hidup masyarakat tetap diperhatikan angka kemiskinan menurun dan inflasi tetap terkendali.
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-765 Soppeng menjadi kesempatan untuk menilai bagaimana pemerintah menanggapi tantangan nyata menjaga kesejahteraan rakyat dan menempatkan prioritas pada kebutuhan dasar masyarakat.
Nilai yang diikrarkan La Temmamala 765 tahun lalu tetap menjadi pijakan karena integritas tanggung jawab dan perhatian terhadap kehidupan masyarakat menjadi fondasi kepemimpinan.
Di tengah kondisi yang menantang, konsistensi pemerintah daerah dalam memilih langkah terukur menjadi contoh bagaimana nilai sejarah dapat diterapkan pada konteks modern karena segenggam padi yang dulu dipegang La Temmamala kini diubah menjadi program kebijakan dan layanan yang harus menjaga keberlangsungan hidup masyarakat.
Langkah-langkah pemerintah menunjukkan bahwa menjaga kesejahteraan rakyat tidak selalu berarti bergerak cepat tetapi bergerak dengan arah yang jelas dan tetap menempatkan prioritas pada kebutuhan dasar masyarakat. Soppeng menghadapi tekanan anggaran tetapi tetap berupaya menjaga layanan dasar menurunkan kemiskinan memperbaiki kualitas pendidikan dan memastikan sektor pertanian tetap mendukung ekonomi.
Dengan pola ini pembelajaran dari ikrar La Temmamala tetap hidup karena seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyatnya dan keputusan yang diambil harus selalu mempertimbangkan kesejahteraan bersama.

