Diyakini berasal dari Tiongkok kuno dan mulai dikenal luas pada masa Dinasti Song. Sejumlah catatan sejarah menyebut domino diperkenalkan oleh pejabat kerajaan bernama Keung Tai Kung pada era Kaisar Hui Tsung sekitar abad ke-12 Masehi. (idntimes.com 22/3/221)
Sementara di Indonesia atau Nusantara, domino diperkirakan masuk melalui jalur perdagangan dan perantauan pedagang Tionghoa. Beberapa sumber sejarah populer menyebut permainan ini mulai dikenal di Nusantara sekitar abad ke-17 hingga ke-18, bersamaan dengan intensifnya perdagangan maritim dan pengaruh kolonial Belanda.
Di negeri asalnya, permainan domino tidak disebut “domino”. Dalam bahasa Tiongkok, permainan itu dikenal dengan nama “pai gow”, “kwat pai”, atau secara umum disebut 牌 (pái) yang berarti kartu atau keping permainan, tergantung jenis permainannya. Bentuk awal domino Tiongkok dibuat berdasarkan kombinasi hasil lemparan dua dadu.
Nama “domino” sendiri justru berasal dari Eropa, bukan dari Tiongkok. Ketika permainan ini menyebar ke Italia dan Prancis sekitar abad ke-18, orang Eropa menyebut kepingan hitam-putih itu sebagai domino, kemungkinan dari bahasa Latin dominus atau dari nama jubah pendeta Prancis berwarna hitam-putih yang disebut domino. Karena warna keping permainan mirip jubah tersebut, nama itu kemudian melekat.
Dari Eropa dan jalur perdagangan kolonial, istilah “domino” ikut menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara. Maka di Indonesia, masyarakat lebih mengenal nama “domino” dibanding nama asli Tiongkoknya. Sementara bentuk permainan lokal berkembang menjadi berbagai varian seperti “gaple”, “kiu-kiu”, dan lain-lain.
Domino mengalami perjalanan sosial yang panjang sebelum menjadi permainan rakyat seperti sekarang di Indonesia. Awalnya, permainan ini bukan hiburan masyarakat umum.
Di Tiongkok kuno, domino dimainkan di lingkungan bangsawan dan pejabat kerajaan. Keping domino dibuat dari bahan mahal seperti tulang, bambu, atau gading, sehingga hanya kalangan tertentu yang bisa memilikinya.
Permainan ini juga dianggap sebagai latihan strategi dan ketelitian, sehingga identik dengan kaum terdidik dan elite istana pada masa Dinasti Song sekitar abad ke-12.
Ketika perdagangan maritim berkembang, para pedagang Tionghoa membawa permainan itu ke berbagai pelabuhan Asia Tenggara, termasuk Nusantara.
Pada masa kolonial Belanda, domino mulai dikenal di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Makassar, Semarang, Surabaya, dan Medan. Namun pada tahap awal, permainan ini masih lebih banyak dimainkan di lingkungan pedagang kaya, komunitas peranakan Tionghoa, serta kelompok elite perkotaan.
Perubahan besar terjadi ketika produksi domino mulai menggunakan bahan murah dan dibuat massal pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Domino tidak lagi menjadi barang mewah. Pedagang keliling mulai menjualnya di pasar-pasar rakyat. Dari kota pelabuhan, permainan ini menyebar ke kampung-kampung melalui buruh pelabuhan, awak kapal, pekerja perkebunan, hingga para perantau.
Di Nusantara, masyarakat kemudian mengadaptasi aturan permainan sesuai budaya lokal. Dari sinilah lahir berbagai varian seperti “gaple”, “qiu-qiu”, dan permainan sambung angka lain yang lebih sederhana dan cocok dimainkan ramai-ramai. Domino menjadi populer karena murah, mudah dimainkan, tidak membutuhkan lapangan khusus, dan bisa menjadi sarana berkumpul.
Pada masa setelah kemerdekaan, domino semakin melekat dengan budaya nongkrong masyarakat. Di warung kopi, pos ronda, teras rumah, hingga pelabuhan dan kebun, domino menjadi media interaksi sosial lintas usia dan kelas sosial. Di Sulawesi, Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan, permainan ini berkembang bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol keakraban, adu kecerdasan, dan solidaritas komunitas.
Itulah sebabnya domino di Indonesia mengalami transformasi unik, dari permainan elite kerajaan Tiongkok dan kalangan kaya kolonial, berubah menjadi permainan rakyat yang sangat merakyat dan lintas budaya.
Dulu domino hanya dimainkan di teras rumah, warung kopi, atau pos ronda. Keping-keping kecil itu menjadi pengisi waktu luang sambil menyeruput kopi dan bercanda hingga larut malam. Tidak banyak yang membayangkan permainan rakyat tersebut suatu hari berubah menjadi industri hiburan yang mampu menggerakkan uang dalam jumlah besar.
Kini, turnamen domino berkembang menjadi event massal yang diikuti ribuan peserta. Lapangan besar disulap menjadi arena pertandingan. Tenda-tenda berdiri rapi, ratusan meja dan kursi disusun berbaris, sistem suara dipasang, layar besar disiapkan, bahkan panggung hiburan menghadirkan artis dan musik untuk menarik keramaian. Domino tidak lagi sekadar permainan santai, tetapi sudah menjadi paket hiburan rakyat berskala besar.
Setiap peserta membayar biaya pendaftaran. Dari situlah roda ekonomi event bergerak. Panitia menghitung seluruh kebutuhan: sewa lokasi, tenda, meja, kursi, listrik, konsumsi, keamanan, publikasi, hingga hadiah utama yang kadang bernilai fantastis, mulai dari uang tunai, sepeda motor, hingga mobil. Bahkan kehadiran artis dangdut atau band lokal pun menjadi bagian dari strategi menarik massa.
Di balik suasana riuh itu, domino berubah menjadi bisnis yang menjanjikan. Pedagang makanan ramai, parkiran penuh, UMKM ikut berjualan, hotel dan penginapan di sekitar lokasi ikut kebagian tamu.
Turnamen domino menciptakan efek ekonomi berantai yang tidak kecil.
Yang menarik, daya tarik domino bukan hanya soal hadiah. Ada gengsi, solidaritas komunitas, dan kebanggaan daerah.
Banyak peserta datang membawa nama kelompok, kampung, atau komunitas mereka. Suasana kompetisi bercampur dengan festival rakyat. Orang datang bukan sekadar bermain, tetapi juga bersilaturahmi, mencari hiburan, dan menjadi bagian dari keramaian besar.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana permainan sederhana bisa bertransformasi mengikuti zaman. Dari meja kayu di sudut warung kopi, domino kini menjelma menjadi industri event yang mampu menghadirkan ribuan orang dalam satu arena.
Dari Permainan Istana Tiongkok ke Industri Hiburan: Begini Domino Menjelma Jadi Bisnis Menguntungkan

